Surat Botol

Hangat matahari tanah perlahan tiba. Di depan pintu ada seonggok botol. Dalam botol bekas sirup itu, tertulis surat panjang dari kertas amplop yang diurai perekatnya. Lelehan sirup berwarna merah masih menempel di dinding botol. Seharusnya botol itu kau cuci dulu. Beberapa kalimat tertutup merah menguarkan amarah. Isi suratmu pahit, dan baunya anyir. Besok kapan entah, pilihlah warung lain untuk membeli sirup. Kurasa warung langgananmu menjual darah, bukan sirup merah.

Komentar